Wednesday, September 6, 2023

Sejarah Gawanan versi Era Amangkurat II

GAWANAN

Harapan Hidup Damai dari Peradaban Tepi Sungai



apa karena ini dinamakan kali PP ?



Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Kerajaan Mataram mencapai masa kejayannya. Sayangnya, jaman keemasan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah beliau mangkat, pamor kerajaan berangsur surut. 

Susuhunan Amangkurat I, putera mahkota penerus tahta Mataram, dikenal pro terhadap VOC. Hal itu memicu terjadinya perselisihan antar kerabat keraton, dan pemberontakan dari daerah-daerah kekuasaannya.


Makam Susuhunan Amangkurat I di Tegal

 
Puncaknya pada tahun 1677, saat Trunojoyo, seorang pangeran dari Madura, melancarkan pemberontakan dan penyerangan ke keraton Mataram di Plered. 
 
Trunojoyo dikenal memiliki pasukan yang kuat, apalagi dibantu oleh Laksamana Laut dari Gowa, Karaeng Galesong, yang sama-sama menyimpan ketidakpuasan terhadap kebijakan Amangkurat I.

***

Akibat pemberontakan ini, Amangkurat I terpaksa menyingkir ke Banyumas, bersama dengan putera mahkota, Raden Mas Rahmat (Amangkurat II)

Sementara itu, putera Amangkurat I yang lain, yakni Pangeran Puger, menolak ikut ayahandanya menyingkir. Pangeran Puger berusaha mempertahankan Plered dari serangan Trunojoyo. 
Namun karena pemberontak ini memiliki kekuatan besar, Pangeran Pugerpun terpaksa menyingkir. 
 
Tempat pelarian beliau berada di Desa Kajenar (sekarang Purwodadi).
Di Desa Kajenar, Pangeran yang nama kecilnya Raden Mas Drajat ini mendirikan Keraton Purwakanda, dan mengangkat diri menjadi raja dengan gelar Sunan Ngaloga.

situs peninggalan Keraton Purwakanda di Purwodadi

Trunojoyo berhasil menduduki Keraton Plered pada tahun 1677. Namun karena tujuan utama pemberontakan ini adalah motif dendam, bukan misi perebutan kekuasaan, maka Trunojoyo lebih tertarik untuk menjarah harta istana dan membawanya kembali ke bentengnya di Kediri.
 
sisa puing-puing Keraton Plered, di Bantul


Mendengar Keraton Plered ditinggalkan Trunojoyo, Pangeran Puger kembali ke keraton, dan mengangkat diri menjadi Raja Mataram.
Di saat yang sama, Amangkurat II juga mengangkat diri menjadi Raja Mataram sesuai amanat dari ayahandanya, Amangkurat I, yang meninggal saat berada di pelarian.
 
 
kelak Trunojoyo ditusuk Amngkurat II dengan Keris Balabar
 

Mengetahui Keraton Mataram di Plered sudah diduduki Pangeran Puger, Amangkurat II memilih untuk berdiam di Semarang, menjadi raja tanpa istana, sambil merencanakan pembukaan hutan Wanakerta di wilayah Pajang untuk pendirian Keraton Mataram yang baru.

Pada September 1680, proses pembukaan hutan Wanakerta telah selesai, dan Keraton Mataram yang baru telah didirikan. Keraton ini diberi nama Keraton Kartasura. 

situs peninggalan Keraton Kartasura


Susuhunan Amangkurat II sebagai Raja Mataram meminta Pangeran Puger untuk bergabung. Namun ajakan ini ditolak, karena Pangeran Puger merasa dirinyalah pewaris tahta Mataram yang sah. Perseteruan ini menyebabkan meletusnya perang saudara.
Pada November 1681, Pangeran Puger berhasil dikalahkan dan iapun mengakui kedaulatan kakaknya, Amangkurat II, sebagai Raja Mataram di Kartasura.



****

Perpindahan Keraton Mataram dari Plered ke Kartasura menyisakan penderitaan di pihak rakyat Mataram. Peperangan, kehidupan yang tidak tenang, was-was, ditambah musim kemarau saat itu cukup panjang, membuat beberapa wilayah mengalami kekeringan, menambah daftar panjang penderitaan rakyat Mataram kala itu. 

Salah satu daerah yang terkena dampak peperangan dan kekeringan adalah Gunung Kidul. Banyak tanaman dan ternak yang mati. Para pemuda yang diharapkan membantu mencarikan sumber air semakin sedikit, karena sebagian besar ditarik ikut dalam peperangan. 
 
ilustrasi Gunung Kidul kekeringan

 
Keadaan makin memburuk pada tahun 1683, ketika Gunung Kidul menjadi pusat perang pemberontakan Wanakusuma yang dipimpin oleh Ki Ageng Wanakusuma (salah seorang keturunan Ki Ageng Giring). 

Meskipun pemberontakan ini dapat diredam oleh pihak keraton, namun perang yang bermotif kudeta kekuasaan itu makin memperparah kondisi kehidupan rakyat. Betapa tidak, rakyat yang sedang mengalami krisis kekeringan, dipaksa untuk ikut berperang.

 
***


Adalah Parto Glompong, seorang pemuda dari Nglipar, Gunung Kidul, salah satu yang berhasil kembali dari peperangan dalam keadaan selamat. Setibanya di rumah, ia mendapat kabar bahwa para lurah dan penewu telah mengungsi ke luar daerah. Hal ini membuat Parto merasa kesal, alih-alih bertanggung jawab, para pemangku kekuasan itu malah pergi meninggalkan rakyat.

Melihat kondisi yang demikian, Parto mulai berpikir, bagaimana agar masyarakat di sekitarnya dapat menjalankan hidup dengan tenang, damai, dan layak. 
 
Pertama kali yang melintas di benaknya adalah pengadaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Maka iapun merencanakan pencarian sumber air bersih.

Pemuda ini mengajak dua temannya untuk mengumpulkan gentong, kemudian diangkut dengan gerobak menuju sumber mata air.
Gerobak berisi gentong ini berjalan menyusuri wilayah Kajoran, kemudian Klathi (sekarang Klaten), kearah utara menuju Kuwel (seputaran Ponggok, Polanharjo, Klaten).

umbul yang kini viral



Sampai di sebuah umbul (mata air), gerobak dihentikan oleh tentara VOC. Parto dan teman-temannya tidak diperkenankan untuk melintas, apalagi berniat mengambil air di umbul tersebut. Karena tanah di situ berstatus Onderneming Ground, milik VOC yang telah dilegitimasi pada masa Amangkurat I.

Bukan Parto Glompong namanya kalau mudah menyerah. Ia mencari lagi sumber air, karena wilayah Klathi kaya akan sumber mata air dari Gunung Merapi.

Iapun ingat di Desa Jatinom terdapat umbul atau sumber mata air. Selain itu, di Desa Jatinom juga pernah ada tokoh masyarakat bernama Ki Ageng Gribig. Parto berasumsi kalau anak turun Ki Ageng Gribig pastilah tokoh yang berpengaruh dan baik.

Jatinom, yang terkenal dengan Sebaran Apem-nya


Setiba di Jatinom, gerobak dihentikan oleh beberapa warga setempat. Parto kemudian menjelaskan maksud kedatangannya. Iapun dipertemukan dengan cucu Ki Ageng Gribig, yang mana beliau seorang ulama, kebetulan saat itu hendak berdakwah mengajarkan Agama Islam ke daerah lain.

Cucu Ki Ageng Gribig ini merasa iba. Namun apa hendak dikata, musim kemarau yang berkepanjangan membuat banyak sumber mata air diambil alih oleh VOC dan pihak Keraton Mataram sehingga beliau tidak dapat banyak membantu. Parto hanya mendapatkan 1 gentong air.
Teman-teman Parto mengingatkan untuk segera kembali ke Gunung Kidul sebelum malam hari. 

Sebelum kembali pulang, cucu Ki Ageng Gribig berpesan, kalau Parto ingin mencari air, ulama ini menceritakan bahwa ia pernah melintas di wilayah bantaran sungai yang bersih, tempatnya di Pajang Utara.
Mendengar nasehat ini, Parto berniat kembali esok hari ke tempat yang dimaksud.


***


Esok harinya, Parto Glompong kembali berangkat menuju Kota Pajang Utara, melalui Klathi, dan Negara (wilayah Keraton Kartasura)
Iapun mencari informasi dari para penduduk yang dilaluinya, hingga sampailah gerobak penuh gentong itu di wilayah Pajang Utara, yang saat itu menjadi bagian kekuasaan Keraton Kartasura.

Di tempat yang masih berupa hutan itu, Parto Glompong menjumpai keberadaan Sungai, yang oleh orang-orang Pajang disebut sebagai Kali Pepe.
 
 
kali pepe masa kini


Kali Pepe merupakan anak sungai dari Bengawan Solo. Sungainya cukup lebar, dan airnyapun sangat jernih. Namun yang menjadi perhatian Parto bukan pada airnya. Lebih jauh dia berfikir, bahwa tempat ini layak dijadikan pemukiman.

Parto berkoordinasi dengan teman-temannya. Dia meminta teman-temannya untuk segera membawa pulang gentong-gentong yang sudah diisi penuh air itu ke Gunung Kidul, sementara ia akan bermalam di tepian Kali Pepe.

Rupanya Parto akan melakukan pengamatan lebih lanjut mengenai kemungkinan untuk membawa warga masyarakat di Gunung Kidul untuk pindah mukim di bantaran anak sungai Bengawan Solo ini.
 
 
ilustrasi gerobak
 

Dua hari berlalu, gerobak pembawa gentong dari Gunung Kidul itu kembali untuk mengambil air sekaligus menjemput Parto Glompong. Kali ini, gerobak juga membawa beberapa pemuda dari kampung sebelah.

Parto Glompong mengajak berunding teman-temannya. Ia menceritakan tentang informasi apa saja yang ia dapatkan selama dua hari menginap di tepian sungai itu.
 
ilustrasi kapal di bengawan Solo

Parto menyampaikan bahwa sejak jaman Majapahit, Bengawan Solo telah dijadikan jalur transportasi logistik, mobilisasi penduduk, baik sipil maupun keperluan militer. Termasuk Kali Pepe, yang digunakan untuk mobilisasi dengan perahu yang lebih kecil, dari Bengawan Solo untuk dibawa ke wilayah seputaran Jawa Tengah.

“Awak dewe kudu nggawa sing luwih okeh (Kita harus membawa yang lebih banyak lagi)” demikian ujar Parto Glompong. 

Nggawa atau membawa lebih banyak yang dimaksud oleh Parto adalah melakukan perpindahan penduduk, dari wilayah yang kekeringan dan potensi konflik, menuju dataran tepi sungai yang masih banyak lahan kosong dan layak huni.

Saat kembali ke Gunung Kidul, Parto Glompong mengumpulkan warga masyarakat yang kehidupannya serba kesulitan itu, untuk diberi arahan, dan motivasi agar berkenan melakukan pindah mukim, membuka lembaran kehidupan baru, yang tenang dan damai.
 
kali pepe kini, dengan perahu wisata


Parto Glompong yang dikenal cerdas ini juga punya pandangan tentang peluang yang dapat diambil dengan memanfaatkan aliran Kali Pepe, yakni dengan berdagang, barang yang dibawa dari dan menuju Jawa Timur melalui Bengawan Solo, untuk diperdagangkan di wilayah Kasunanan Kartasura dan sekitarnya.

Niatan Parto Glompong disambut baik oleh masyarakat di tempatnya tinggal itu. Sejak hari itu, dimulailah babat alas, dan migrasi penduduk dari Gunung Kidul menuju tepian Kali Pepe di Pajang Utara.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan dari VOC maupun dari Keraton Kartasura, proses migrasi itu dilakukan bertahap. Setiap melalui pemeriksaan di batas-batas wilayah, Parto selalu menyampaikan, “Gawan biasa” atau barang bawaan biasa. 
 
Lambat laun “gawanan” atau barang-barang bawaan itu terkumpul, dan berdirilah pemukiman penduduk pindahan, di tepi Kali Pepe.

Balai Desa Gawanan Kini


Setelah beberapa kurun waktu, pemukiman baru ini menunjukkan perkembangan pesat. Penduduknya mulai membuka lahan untuk persawahan, dan berdagang seperti arahan dari Parto Glompong. 
 
Perahu kecil pengangkut barang dari Bengawan Solo yang tadinya berhenti hanya sampai di dermaga Lawe, Pajang, diteruskan hingga ke daerah Pajang Utara.

kondisi salah satu warga Gawanan saat ini

tolong keluarganya dikabari


Penduduk dari berbagai wilayah seperti Boyolali, Pajang, hingga Semarang turut ikut mengembangkan wilayah tepian Kali Pepe ini, hingga meluas menjadi sebuah peradaban atau kehidupan desa baru.

Pada masa pemerintahan Pakubuwono II (sekitar setengah abad setelahnya) daerah tepian Kali Pepe berkembang menjadi pedesaan yang ramai, terutama  menjadi jalur perdagangan dari wilayah kekuasan Kasunanan Kartasura. 
 
Sehingga ditempatkanlah satu Tumenggung (setingkat Bupati) untuk memimpin wilayah tersebut. 
Tumenggung itu bernama Tumenggung Malangjiwo.
 
 
Pabrik Gula Tjolomadoe di Kecamatan Malangjiwan (sekarang jadi nama Desa)

 
 
Gawanan, kini menjadi salah satu nama Desa di Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karangnayar.
 
 
***
 
 
Kisah Asal Usul ini memang Asal Asalan, tokohnya rekaan fiktif, namun sejarah yang dipaparkan berdasar Kisah dari Babad Mataram. 
 
Disusun oleh: Mas Kuprit (warga Madu Asri blok C, Desa Gawanan)
 

No comments:

Post a Comment